Di Indonesia, pengurangan aksi pembajakan software PC sebanyak 10 persen ternyata mampu meningkatkan jumlah lapangan kerja baru bidang IT hingga 2.200 posisi.
Angka sebesar itu ternyata juga mampu menaikkan perekonomian negara hingga USD1,8 miliar seiring dengan total peningkatan pendapatan pajak pemerintah sekira USD88 juta.
Sebuah studi yang dilakukan oleh IDC atas prakarsa Business Software Alliance (BSA) mengatakan bahwa industri IT telah memberikan kontribusi cukup besar bagi peningkatan perekonomian Asia.
Pada tahun 2007 saja, ekonomi di Asia mampu menghabiskan USD231 miliar untuk belanja IT, termasuk hardware, software, jaringan dan layanan IT lainnya. Angka ini dihasilkan oleh lebih dari 348.000 perusahaan IT dengan 5,5 juta karyawan. Bahkan IT spending sebesar itu mampu menghasilkan pendapatan pajak hingga USD167 miliar.
“Beberapa tahun lalu, Indonesia masuk dalam kategori priority list untuk software bajakan. Kini posisi tersebut menurun menjadi white list,” ujar Anshori Sinungan, Direktur Hak Cipta Departemen Hukum dan HAM, saat konferensi pers BSA, di Jakarta, Kamis (24/1/2008).
Menurutnya pada bulan Mei 2007, pembajakan di Indonesia telah turun sekira 2 persen menjadi 85 persen dari tahun sebelumnya.
Namun angka tersebut belum cukup memuaskan. Menurut Roland Chan, Direktur Marketing BSA Asia, rata-rata negara di dunia hanya mampu menurunkan angka pembajakan hingga 10 persen saja dalam waktu empat tahun.
“Seperti negara-negara lainnya, pengurangan 10 persen bajakan di Indonesia mampu menaikkan total IT spending dari 9,5 persen menjadi 13,6 persen per tahun seiring dengan peningkatan sumber daya IT dari 8.2 persen ke 9,6 persen per tahun,” ujar Chan.
Berdasarkan data tersebut, pemerintah berusaha keras untuk terus memerangi software PC bajakan baik dengan memberikan edukasi pelatihan maupun pemantapan perundang-undangan yang ada melalui revisi-revisi setiap bagian undang-undang yang dirasa perlu.